KEBAHAGIAANKU

Menulis adalah salah satu jalan menuju kebahagiaan hidup, memerdekakan diri.

Selasa, 22 Juli 2014

CANTIKNYA ALAMKU

Sesuai judulnya ya, cantik dan alami mengenai isi tulisanku ini. Kali ini aku akan menulis tentang kecantikan alam desa yang juga berhubungan dengan cantik alami yang kumiliki (hmmm...sssttt...itu kata suamiku loh...peace!!!)


Sebenarnya desa ini bukan kampung halamanku, tetapi desa ini adalah kampung halaman suamiku. Namun sejak aku menikah dengan suamiku, Mas Ahmad Saefin maka lama kelamaan akupun mencintainya sama halnya aku mencintai suamiku. Mungkin jika kedua orangtuaku masih ada tentunya tak setiap tahun aku bisa pulang ke Desa Banjiran, warungasem, Batang, Jawa Tengah ini.

Hubunganku dengan keluarga besar suamiku begitu erat, maka tak heran jika aku begitu betah dan senang jika harus berkunjung ke sana. Begitupun suasana desanya yang telah membuatku jatuh cinta dan selalu ingin kembali pulang, seakan-akan desa itupun telah menjadi tanah kelahiranku juga.


Sabtu lalu tepatnya tanggal 19 Juli 2014, aku dan suami beserta anak memutuskan untuk mudik lebih cepat, dengan alasan menghindari macet akibat arus mudik lebaran. Alhamdulillah walaupun dalam kondisi berpuasa aku dan keluarga tetap kuat menjalani puasa hingga satu hari full. Namun yang membuat lelah dalam perjalanan ini adalah karena Bus antar kota yang biasanya bisa mengantar hingga kota Pekalongan, mau tak mau harus menghentikan perjalanannya hingga sampai kota Pemalang saja sejak ambrolnya jembatan penghubung antara daerah Comal ke Pekalongan.


Waduh sungguh melelahkan perjalanan mudik kali ini. Untuk sampai tujuan tak ada mobil angkutan yang bisa mengantar kami sekeluarga, maka mau tak mau suamiku memutuskan untuk menggunakan jasa ojek, tetaaaapi...harga yang dipatok oleh si tukang ojek sungguh membuat kesal, harganya selangit, tapi ya itu tadi aku dan suami berfikir itulah uniknya mudik, coba fikir kalau tak ada tradisi mudik, maka hari raya lebaran takkan seramai ini. Kalau berfikir negatif hal sekecilpun akan menjadi satu masalah besar namun jika berpositif thingking, apapun akan tampak menyenangkan. Hal tersebut terbukti dengan indahnya pemandangan disepanjang jalan yang kulalui menuju kampung halaman. View-nya benar-benar WOW!!!! begitu terasa fresh ketika menatapnya. Aku semakin mengerti inilah mengapa ribuan perantauan akan tetap memilih pulang kampung ketika hari raya, yah karena kampung halaman yang begitu merindukan.

To be continue...

Next...about my family


3 komentar:

  1. salam kenal ya mba..saya tinggal di pemalang setelah jembatan comal. kira2 naik angkutan apa sehingga mba bisa sampai di Batang? apakah memutar? saya jadi terinspirasi nih, ikutan jejak mba Wiwi mendokumentasikan alam rumah sendiri..selalu lupa ga potret2 wajah kamung halaman :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mba ketty husnia, terima kasih sudah jalan-jalan ke blog-ku ya. Dari terminal Pemalang, saya sekeluarga naik angkutan 3/4 turun dipertigaan, tapi nggak tahu nama pertigaan itu, pokoknya ramai kayak pasar, terus lanjut naik ojek lewat jembatan kecil yang bawahnya sungai besar, jembatannya cuma cukup untuk 2 motor saja itupun mau melewatinya antri sekali, dari sana bablas lewat kajen, kedungwuni terus warungasem. Jauh sekali perjalanannya cuma karena pemandangannya indah jadi enjoy deh. Iya buat tulisan aja mba perjalanan ke kampung halaman, ceritakan tentang hal-hal yang menarik, pasti akan lebih berkesan, Selamat menulis.

      Hapus
    2. terima kasih mba atas infonya. sangat membantu kami yg sedang mempertimbangkan naik bis, travel atau kereta api. semoga liburannya berkesan di kampung halaman ya mba..nuwun :)

      Hapus